Ekspedisi ini adalah kisah dua orang lelaki muda berusia (pernah) dua puluh tahun yang sama-sama kesehariannya bekerja dalam temperatur 150 sampai 650 derajat celcius, lingkungan kerja yang biasa menyebut temperatur 185 derajat celcius adalah dingin dan 450 derajat celcius adalah panas.

image

Salah satu diantara keduanya gemar menulis mengenai petualangan Kopi Hitam sementara pemuda selainnya giat memberitakan konspirasi punahnya Paragede.

Hingga satu titik keduanya saling menyimpan satu rasa penasaran mengenai petualangan Kopi Hitam dan sebaliknya tentang kenikmatan Paragede.

Dan satu ketika jodoh pun mempertemukan segelas kopi hitam bukit tinggi dan sewadah penuh paragede du sebuah meja kerja yang keduanya berasal dari Ranah Minang.

image

Tiba saatnya membuka wadah bungkusan paragede, ketika terbuka terlihat segerombolan paragede yang semua berpostur chubby meng-gemaskan dengan warna kuning mempesona. Terpilihlah sepotong paragede yang berpostur sedang, tak kecil tak juga besar namun tetap terkesan chubby menggemaskan.

Sampai satu ketika paragede pun dipegang dengan erat, masuk ke dalan mulut, dan tiba momen gigitan pertama, paragede ini terasa melted in my mouth, tercabik sempurna, terasa keletak-keletuk saat gigi graham terpisah oleh butir-butir potongan jagung yang tak muda namun tak pula tua.

Rasa dan tekstur luar biasa dari sepotong paragede yang terasa semakin nikmat ketika diantara gigitan kenikmatan paragede diselingi oleh pahitnya kopi bukit tinggi yang diseduh tanpa gula juga tanpa diaduk.

Semoga paragede dan kopi hitam tetap langgeng senantiasa bersama di atas meja yang sama.(dhy)

Advertisements