IMG_4998_resize

Teringat saat pertama kali masuk sekolah, ketakutan selalu hadir terutama saat baru pertama kali masuk TK dan saat masuk SD pun demikian, ternyata hal ini menurun ke Keis anak lelaki saya. Di hari pertama ajaran baru tahun 2012, pagi hari Keis menangis tersedu-sedu saat harus lepas dari pelukan ummi dan abi nya, Keis masuk ke barisan para siswa taman kanan-kanan bersama anak-anak lainnya.

IMG_4948_resize

Hari demi hari, Keis pun bisa menikmati proses belajar di kelasnya, dan ternyata merasakan bahwa belajar di TK sangat menyenangkan, tak ada lagi tangisan tak ada lagi air mata, tergantikan dengan senyuman dan kecerdasan yang makin terlihat hari demi hari terlewati.

IMG_5071_resize

Di tahun pertama ketika saya masuk Sekolah Dasar, tak berbeda jauh dengan Keis, namun hanya berbeda debit air mata yang keluar saja, karena saya termasuk anak yang penakut dan pemalu, sehingga merasa ketakutan dan terancam dengan lingkungan baru. Beberapa hari setelah hari pertama tersebut, tak ada lagi air mata yang mengalir, namun tak seperti Keis yang langsung bisa berbaur dengan teman-teman barunya, saya lebih banyak diam dalam tahap observasi, dan dalam proses belajar pun saya lebih banyak diam dan pasif.

Sekolah merupakan sebuah kotak ajaib, seorang anak datang dengan menangis, tak bisa baca tulis, tak bisa berhitung, ketika keluar kotak ajaib ini anak tersebut terlihat ceria, penuh senyuman, atraktif dengan tambahan berjuta pengetahuan serta keterampilan. IMG_5098_resizeProses transformasi yang luar biasa, padahal terkadang yang dilakukan hanya duduk rapih di sebuah bangku kayu berdampingan dengan seorang temannya, sesekali mencatat dan menjawab pertanyaan guru di depan kelas, itupun jika dalam kondisi semangat belajar yang baik, dan seringnya hanya duduk terdiam, kalo bahasa seorang teman saya yang masih muda namun sudah berhaji mengatakan “untuk menjadi pintar yang perlu kita lakukan hanya diam, tidak usul tapi juga tidak usil”. (dhy)

Advertisements